
JAKARTA, RC – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying atau membeli Oseltamivir secara berlebihan di tengah meningkatnya kasus influenza sejak September 2026.
Kemenkes menegaskan, Oseltamivir bukan obat yang dikonsumsi secara massal atau diminum untuk mencegah influenza tanpa penilaian medis. Obat antivirus tersebut terutama diperuntukkan bagi pasien influenza dengan kondisi berat dan kelompok berisiko tinggi berdasarkan pemeriksaan serta pertimbangan dokter.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit,” kata Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Kemenkes menyebut kenaikan kasus influenza sejak September merupakan pola musiman tahunan yang juga terjadi di sejumlah negara ASEAN, termasuk Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.
Virus yang saat ini mendominasi kasus influenza di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09.
Sementara itu, Kemenkes meluruskan informasi mengenai istilah “super flu” yang beredar di masyarakat.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Saguni mengatakan istilah tersebut tidak dikenal dalam nomenklatur resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Kemenkes.
“Istilah ‘super flu’ tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, yang justru kasusnya di Indonesia menurun drastis,” ujar Andi.
Berdasarkan pemantauan surveilans Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) hingga pekan ke-38 2026, terdapat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan atau sekitar 17 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika tingkat spesimen positif mencapai 24 persen.
Kasus influenza A(H3N2) subclade K juga tercatat menurun. Sepanjang 2026, hanya ditemukan 22 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan 166 kasus pada 2025. Tidak ada penambahan kasus baru sejak April 2026.
Pemantauan dilakukan melalui 35 rumah sakit, 39 puskesmas, 13 balai laboratorium kesehatan masyarakat dan 14 balai karantina kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk memastikan ketersediaan obat bagi pasien yang membutuhkan, Kemenkes telah mendistribusikan Oseltamivir ke 196 rumah sakit dan terus mengupayakan tambahan pasokan.
Pengadaan dilakukan melalui peningkatan produksi dalam negeri serta jalur importasi khusus untuk mengantisipasi keterlambatan pasokan dari produsen lokal.
“Kami menggunakan data surveilans sebagai dasar perencanaan kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan. Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan,” kata Lucia.
Dari sisi medis, sebagian besar kasus influenza tidak membutuhkan obat antivirus. Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas Pompini Agustina Sitompul menjelaskan, influenza pada umumnya merupakan self-limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.
Penanganan pada kasus ringan umumnya dilakukan dengan istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Antivirus diberikan terutama pada kasus berat yang membutuhkan bantuan oksigen serta kelompok rentan, seperti anak berusia di bawah lima tahun, lanjut usia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita penyakit penyerta atau komorbid, dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana menambahkan, bukti ilmiah juga menunjukkan manfaat Oseltamivir pada anak dengan influenza tanpa komplikasi relatif terbatas.
Berdasarkan meta-analisis terhadap sekitar 2.500 pasien anak rawat jalan, pemberian Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.
Manfaat tersebut terutama terlihat ketika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak munculnya gejala pada anak berusia di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.
“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi,” ujar Dewi.
Penggunaan Oseltamivir juga memiliki risiko efek samping. Penelitian menunjukkan risiko muntah pada anak yang mengonsumsi obat tersebut sekitar 1,6 kali lebih tinggi.
Penggunaan antivirus secara berlebihan tanpa indikasi medis juga berpotensi meningkatkan resistensi virus terhadap obat. Sementara antibiotik tidak dianjurkan untuk influenza, kecuali terdapat bukti infeksi sekunder yang disebabkan bakteri.
Kemenkes meminta masyarakat tidak berfokus pada pembelian obat dalam jumlah besar, tetapi mengenali gejala dan tanda bahaya serta mencari pertolongan medis ketika diperlukan.
“Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat,” kata Lucia.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat berada di keramaian atau ketika sakit, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza secara berkala.
Kemenkes juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan influenza yang ditujukan kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.