FOTO/KEMENKOPM

Dari Kampus ke Desa, Kemenko PM Gerakkan Hampir 10 Juta Mahasiswa Lawan Kemiskinan

Terbit : 3 September 2026
Font +
Font -

JAKARTA, RC – Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong hampir 10 juta mahasiswa di Indonesia terlibat langsung dalam upaya mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat di desa.

Langkah tersebut dilakukan melalui Innovilleague 2026, gerakan yang menghubungkan potensi perguruan tinggi dengan persoalan kemiskinan di tingkat masyarakat. Mahasiswa didorong tidak hanya menghasilkan gagasan di lingkungan kampus, tetapi turun langsung bersama masyarakat untuk menciptakan solusi yang meningkatkan kapasitas, produktivitas, dan kemandirian ekonomi warga.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Abdul Haris, mengatakan terdapat kesenjangan antara besarnya jumlah penduduk miskin di desa dan potensi mahasiswa yang belum sepenuhnya tersalurkan.

“Di satu sisi kita memiliki jutaan penduduk miskin di desa yang membutuhkan pendampingan. Di sisi lain, terdapat sekitar 10 juta mahasiswa yang potensinya belum sepenuhnya tersalurkan. Inilah kesenjangan yang semestinya bisa kita jembatani bersama,” ujar Abdul Haris dilansir dari laman Kemenko PM, Selasa (1/9/2026).

Menurut Abdul Haris, Innovilleague 2026 bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi wadah untuk menggerakkan kekuatan akademik nasional agar terlibat langsung dalam menjawab persoalan kemiskinan dan ketimpangan pembangunan.

Indonesia saat ini memiliki 4.416 perguruan tinggi, 33.741 program studi, dan 9.967.487 mahasiswa aktif. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal besar untuk memperluas gerakan pemberdayaan masyarakat, terutama di desa yang masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pengembangan ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, angka kemiskinan nasional tercatat 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta jiwa. Sebanyak 12,10 juta jiwa di antaranya berada di wilayah perdesaan. Sementara itu, sekitar 2,20 juta jiwa masih berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.

Selain kemiskinan, persoalan ketenagakerjaan juga menjadi perhatian. Tingkat pengangguran terbuka nasional tercatat 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,21 juta merupakan lulusan Diploma dan Sarjana.

Abdul Haris menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga berdampak langsung terhadap masyarakat.

“Inilah saatnya kita membuktikan bahwa kampus adalah ruang untuk bertindak nyata, bukan hanya ruang untuk berdialektika semata,” katanya.

Melalui Innovilleague 2026, mahasiswa dapat mendaftarkan berbagai program pemberdayaan yang telah dijalankan bersama masyarakat. Program tersebut antara lain Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan KKN Tematik, proyek sosial dan kemasyarakatan, kewirausahaan sosial, teknologi tepat guna, serta berbagai inovasi pemberdayaan lainnya.

Berbeda dengan kompetisi yang hanya menilai gagasan atau proposal, Innovilleague memberikan apresiasi terhadap program yang telah dilaksanakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Aspek keberlanjutan program menjadi indikator penilaian dengan bobot tertinggi, yakni 30 persen, sedangkan dampak nyata mendapat bobot 25 persen. Dengan skema tersebut, program mahasiswa diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Innovilleague 2026 juga dibagi dalam tiga regional, yakni Barat, Tengah, dan Timur, untuk memberikan ruang bagi mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia.

Pada penyelenggaraan 2025, Innovilleague diikuti 482 tim yang melibatkan 1.894 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Program tersebut menghasilkan ratusan inovasi pemberdayaan masyarakat.

Tahun ini, pelaksanaan Innovilleague diperluas melalui kolaborasi Kemenko PM bersama Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Program tersebut juga diperkuat komitmen 4.014 perguruan tinggi yang pada Rakornas di Surabaya, Agustus 2025, menyatakan kesanggupan mendampingi 40.000 desa selama periode 2026–2029.

Abdul Haris menegaskan, pengentasan kemiskinan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menghadirkan pendampingan, inovasi, dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di desa.

“Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan wilayah tidak akan terjawab hanya dengan kebijakan dari Jakarta. Ia akan terjawab ketika mahasiswa di seluruh penjuru negeri berani turun, terlibat, dan menciptakan solusi bersama masyarakat desa,” ujarnya.

Pendaftaran Innovilleague 2026 dibuka pada 1–30 September 2026 melalui laman resmi Mandaya. Puncak penganugerahan Mandaya Award 2026 dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Berita ini telah dibaca 5 kali
Font +
Font -
cross