
JAKARTA, RC — Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Nasional 1448 Hijriah, Rabu (26/8/2026).
Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan”, gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk meneladani ajaran Rasulullah SAW dalam menjaga kelestarian alam. Ia secara khusus menyoroti ancaman kebakaran hutan dan kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat.
"Mari kita menjadikan asap itu sebagai musuh bersama," tegas Nasaruddin dilansir dari laman Kementerian Agama.
Menurutnya, kabut asap akibat pembakaran hutan tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat memicu berbagai penyakit, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Nasaruddin mengatakan ajaran Rasulullah SAW memiliki nilai ekologis yang kuat. Ia mengingatkan umat agar tidak melakukan tindakan yang merusak alam, termasuk menggunakan api untuk membakar tumbuhan dan membuka lahan.
Ia mencontohkan hadis yang mendorong umat untuk tetap menanam pohon meski mengetahui hari kiamat akan segera tiba. Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari keteladanan Rasulullah.
"Seandainya dunia ini besok pasti kiamat, tetaplah kalian menanam pohon," ujarnya.
Nasaruddin juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan pembakaran sebagai cara membuka lahan atau membersihkan kebun. Praktik tersebut dinilai dapat merusak lingkungan dan mengurangi kualitas udara.
"Nasihatilah saudara-saudara kita agar kita jangan membiasakan membersihkan atau membuka kebun-kebun dengan membakar pepohonan, sebab itu akan merusak oksigen, merusak alam, merusak paru-paru bumi," katanya.
Selain pesan tentang lingkungan, rangkaian Maulid Nasional Kemenag ditandai dengan Peringatan Maulid dan Ijazah Kubro Dalail Khairat.
Nasaruddin menjelaskan, ijazah dalam tradisi pembacaan selawat merupakan bentuk penguatan spiritual bagi seseorang yang menerima ijazah tersebut.
"Ijazah itu semacam wisuda. Ijazah itu adalah tanda penguatan," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dirancang untuk mengajak masyarakat memperbanyak selawat secara serentak di seluruh Indonesia.
Gerakan tersebut menargetkan partisipasi 1.781.945 peserta, angka yang dipilih sebagai simbol historis Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Gerakan ini mengajak masyarakat Indonesia memperbanyak shalawat melalui pembacaan Dalail Khairat, dengan semangat bershalawat untuk negeri meneladani sirah Nabi," kata Abu Rokhmad.
Kemenag juga meluncurkan estafet Ngaji Sirah Nabawi yang digelar selama tujuh hari bersama para ulama. Kegiatan ini diarahkan untuk memperdalam sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW secara utuh dan kronologis.
Nasaruddin menilai pemahaman terhadap sirah Nabi penting agar umat tidak hanya mengenal Rasulullah melalui kisah-kisah terpisah, tetapi memahami perjalanan hidup dan keteladanannya secara menyeluruh.
Ia berharap gerakan selawat dan ngaji sirah tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat melahirkan tindakan nyata dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam menjaga lingkungan.
"Itulah yang harus menjadi kekuatan moral, bagaimana supaya bangsa Indonesia ini tetap kita pertahankan sebagai paru-paru bumi," pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Komisi Yudisial Abdul Chair Ramadhan, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, serta jajaran pejabat dan ASN Kemenag.