FOTO/BIRO HUMAS KEMENAG

Gerakan Tobat Ekologis Diluncurkan, Sekolah Didorong Jadi Pelopor Pelestarian Lingkungan

Terbit : 12 October 2026
Font +
Font -

JAKARTA, RC – Pemerintah meluncurkan Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata melalui kolaborasi Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di satuan pendidikan seluruh Indonesia.

Gerakan ini menyasar seluruh satuan pendidikan, terutama sekolah yang belum pernah mengikuti program Adiwiyata. Peluncurannya digelar di Jakarta, Senin (12/10/2026), dengan melibatkan ratusan peserta secara langsung serta ribuan sekolah dan instansi melalui jaringan daring.

Sekretaris Utama Kementerian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan gerakan tersebut dirancang agar pendidikan lingkungan dapat menjangkau sekolah secara lebih luas dan inklusif.

“Penguatan budaya lingkungan hidup perlu menjangkau seluruh satuan pendidikan, termasuk sekolah-sekolah yang belum pernah mengikuti program Adiwiyata. Atas dasar tersebut, Tobat Ekologis pada kesempatan ini diarahkan kepada sekolah level nol,” ujar Rosa dilansir dari laman Kemenag.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti 650 peserta secara langsung dan terhubung secara daring dengan lebih dari 2.000 sekolah serta instansi di seluruh Indonesia.

Menurut Rosa, tobat ekologis bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Prosesnya dimulai dari kesadaran, refleksi, komitmen, perubahan, aksi nyata, pembiasaan, hingga menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat menegaskan, kolaborasi lintas kementerian diperlukan agar gerakan tersebut berjalan efektif. Ia menyebut pendekatan yang digunakan mencakup kesadaran moral dan budaya, nilai-nilai agama, serta penegakan hukum.

“KLH mencanangkan sebuah gerakan nasional yang kita sebut Gerakan Tobat Ekologis. Intinya ada tiga perspektif: perspektif moral dan kesadaran dari budaya, perspektif agama, dan pendekatan penegakan hukum atau law enforcement,” kata Jumhur.

Ia juga menyoroti hasil survei yang disebut menunjukkan 80 persen Generasi Z memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Menurutnya, kepedulian generasi muda tersebut perlu didukung melalui pendidikan dan kegiatan nyata agar berkembang menjadi kebiasaan menjaga alam.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kesiapan Kemenag mendukung gerakan tersebut melalui lembaga pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan pesantren.

Nasaruddin menilai pelestarian lingkungan perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Ia mengajak insan pendidikan mengubah cara pandang terhadap alam, dari sekadar objek pemanfaatan menjadi bagian penting yang harus dijaga bersama.

“Mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan menjadikan alam itu hanya sebagai objek, tapi jadikan sebagai partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama,” ujar Nasaruddin.

Ia menambahkan, kerja sama tiga kementerian tersebut penting untuk menyatukan kebijakan pemerintah, pendidikan lingkungan di sekolah, dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam menjaga kelestarian alam.

Peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata diharapkan mendorong sekolah umum, madrasah, dan pesantren melakukan aksi nyata, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki sanitasi, memilah sampah, hingga menghemat penggunaan air dan energi.

Melalui gerakan ini, pemerintah menargetkan budaya peduli lingkungan tumbuh di lingkungan pendidikan dan menjadi kebiasaan yang diterapkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Berita ini telah dibaca 9 kali
Font +
Font -
cross