
SIGI, RC – Personel Batalyon A Pelopor Satbrimobda Sulawesi Tengah menguji kesiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui simulasi Panggilan Luar Biasa (PLB) menggunakan aplikasi Brimob Madago Respons, Kamis (6/8/2026).
Simulasi tersebut dirancang untuk menguji kecepatan personel dalam menerima informasi, melakukan mobilisasi kekuatan, hingga melaksanakan penanganan dan evakuasi korban dalam skenario Karhutla.
Dilansir dari laman Polda Sulteng, Wadanyon A Pelopor Satbrimobda Sulteng, AKP Cahyo Suryanto, mengatakan simulasi dilakukan untuk memastikan personel memahami mekanisme PLB melalui aplikasi sekaligus mampu merespons dengan cepat ketika menerima informasi kejadian.
“Simulasi ini dilakukan untuk memastikan personel memahami mekanisme panggilan luar biasa melalui aplikasi Brimob Madago Respons serta mampu merespons dengan cepat ketika mendapatkan informasi kejadian. Kemampuan tersebut perlu terus dilatih agar personel siap diterjunkan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Cahyo.
Dalam simulasi, personel terlebih dahulu menerima panggilan luar biasa melalui aplikasi sebagai pemberitahuan adanya kejadian yang membutuhkan pengerahan cepat.
Setelah menerima informasi, personel langsung menyiapkan kekuatan dan bergerak menuju lokasi sesuai skenario yang telah ditentukan.
Setibanya di lokasi, personel melaksanakan penanganan awal dan tahapan evakuasi terhadap korban terdampak Karhutla. Seluruh tahapan dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan untuk mengukur kesiapan personel menghadapi kondisi sebenarnya.
Aplikasi Brimob Madago Respons tidak hanya digunakan untuk mendukung penanganan Karhutla. Sistem tersebut juga dapat mendukung pengerahan personel dalam berbagai situasi yang membutuhkan respons cepat, seperti patroli kemitraan, Search and Rescue (SAR), penanganan Jibom, Wanteror, Penanggulangan Huru-Hara (PHH), Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR), serta berbagai kejadian lainnya.
Melalui latihan dan simulasi secara berkala, Batalyon A Pelopor Satbrimobda Sulteng terus meningkatkan kemampuan personel dalam menerima informasi, memobilisasi kekuatan, serta melaksanakan penanganan sesuai tugas dan kondisi di lapangan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan personel dalam menghadapi berbagai situasi darurat yang membutuhkan pengerahan cepat.