
JAKARTA, RC — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan jiwa dengan mengenali tanda-tanda gangguan jiwa sejak dini dan tidak ragu mencari pertolongan. Gangguan jiwa dapat dialami siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun kondisi ekonomi.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, masalah kesehatan jiwa sering tidak terlihat secara fisik sehingga orang yang mengalaminya kerap tidak segera mendapatkan pertolongan.
“Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah. Ini banyak sekali terjadi di lingkungan kita sehari-hari,” ujar Dante dalam Media Briefing Kesehatan Jiwa di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurut Dante, masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi orang-orang di sekitarnya dan tidak menunggu hingga masalah kesehatan jiwa berkembang menjadi krisis.
Ia mengatakan, masyarakat tidak harus menjadi ahli untuk membantu seseorang yang sedang mengalami masalah kejiwaan. Ada empat langkah sederhana yang dapat dilakukan, yakni Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan.
Langkah Tanya dilakukan dengan menanyakan kondisi seseorang ketika terlihat mengalami perubahan. Selanjutnya Dengarkan, yakni memberikan ruang bagi orang tersebut untuk bercerita tanpa menghakimi.
Kemudian Temani, dengan memastikan orang tersebut tidak merasa menghadapi masalah seorang diri. Terakhir, Hubungkan, yaitu membantu mengarahkan orang yang membutuhkan kepada keluarga atau tenaga profesional untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
Dante mengatakan, dukungan dari lingkungan terdekat penting karena masalah kesehatan jiwa sering berkembang secara perlahan dan tidak selalu mudah dikenali.
Secara global, sekitar satu dari tujuh orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup sehingga kesehatan jiwa perlu mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan kesehatan fisik.
Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perubahan pada kondisi fisik, emosi, maupun perilaku, terutama jika berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua minggu.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain gangguan pola tidur, rasa lemas yang berulang, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok.
“Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis,” tegas Dante.
Upaya deteksi dini juga diperkuat Kemenkes melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pelaksanaan CKG, sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, sekitar 186.000 orang ditemukan mengalami gangguan depresi dan kecemasan.
Masyarakat juga dapat melakukan skrining kesehatan jiwa secara mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT menggunakan kuesioner Self Reporting Questionnaire (SRQ-20).
Hasil skrining tersebut dapat membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatan jiwanya dan menentukan kebutuhan untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.
Kemenkes juga terus memperkuat layanan kesehatan jiwa bagi berbagai kelompok usia, mulai dari ibu hamil dan ibu pascamelahirkan, anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
Bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan terkait masalah kesehatan jiwa, Kemenkes menyediakan layanan Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi 8. Layanan tersebut memberikan dukungan psikologis dan membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai.