
JAKARTA, RC – Kementerian Pertanian mempercepat hilirisasi subsektor perkebunan nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas serta kesejahteraan pekebun.
Langkah tersebut dilakukan melalui penyiapan lahan, identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL), serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.
Fokus hilirisasi diarahkan pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete yang dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah dan memperkuat perekonomian pekebun.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas tersebut dengan target pengelolaan 870.000 hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan hilirisasi menjadi langkah penting agar komoditas perkebunan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
“Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi,” ujarnya dilansir dari pertanian.go.id.
Ia menambahkan, pemerintah terus memastikan kesiapan berbagai aspek, mulai dari lahan, kelompok tani, hingga ekosistem industri agar program berjalan berkelanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menyebut penyiapan program dilakukan melalui pemetaan potensi lahan dan verifikasi langsung di lapangan.
“Kami memastikan kesiapan CPCL, memetakan potensi lahan, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pekebun agar program berjalan optimal,” katanya.
Selain penguatan budidaya, Kementan juga mendorong pengembangan produk turunan seperti gula dari tebu, olahan kelapa, cokelat dari kakao, hingga produk rempah dari pala dan lada.
Melalui program ini, subsektor perkebunan diharapkan tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga berkembang menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu membuka peluang usaha serta meningkatkan kesejahteraan pekebun di Indonesia.