
PALU, RC – Seorang peserta Kelas Ayah Idaman (Kelas AMAN) di Kota Palu menyatakan kesediaannya mengikuti program keluarga berencana (KB) melalui vasektomi sebagai bentuk keterlibatan pria dalam perencanaan keluarga.
Pernyataan tersebut disampaikan seorang suami yang tengah mendampingi istrinya mengandung anak keempat saat mengikuti Kelas AMAN di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) Setia, Kecamatan Palu Barat, Kamis (20/8/2026).
“Saya yang KB saja,” ujar peserta tersebut saat diskusi mengenai pilihan KB pria.
Ketertarikan terhadap vasektomi kemudian menjadi bagian dari pembahasan bersama Bdn. Marsatia, S.KM., S.Tr.Keb., dan Tim Kerja Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah.
Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai KB pria, termasuk prosedur vasektomi, persiapan yang diperlukan serta masa pemulihan setelah tindakan.
Dilansir dari laman Kemendukbangga Sulteng, kelas AMAN di TPMB Setia diikuti enam pasangan ibu hamil dan suaminya. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para ayah untuk memahami peran mereka dalam mendampingi pasangan sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.
Materi yang diberikan mencakup tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan serta dukungan terhadap keputusan KB Pascapersalinan (KBPP).
Keterlibatan pria dalam pembahasan KB dinilai penting karena keputusan penggunaan kontrasepsi merupakan tanggung jawab bersama pasangan. Dengan memperoleh informasi yang memadai, suami dapat terlibat dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan terkait perencanaan keluarga.
Kelas AMAN juga menjadi salah satu upaya mendekatkan edukasi keluarga berencana kepada masyarakat melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di lingkungan keluarga.
Di Kota Palu, TPMB Setia merupakan salah satu tempat yang menyelenggarakan Kelas AMAN. Pasangan yang membutuhkan informasi mengenai peran ayah, kehamilan maupun KB Pascapersalinan dapat memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang konsultasi dan edukasi.
Melalui program tersebut, keterlibatan ayah diharapkan tidak berhenti pada peran sebagai pendamping selama kehamilan, tetapi juga mencakup pemahaman dan partisipasi dalam pengambilan keputusan bersama demi kesehatan ibu dan keluarga.