Perluas Skrining TB Berbasis AI, Kemenkes Sasar Pesantren dan Permukiman Padat

Terbit : 15 August 2026
Font +
Font -

JAKARTA, RC — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperluas penemuan kasus tuberkulosis (TB) secara aktif dengan memanfaatkan pemeriksaan rontgen dada berbasis Artificial Intelligence (AI) di pondok pesantren dan permukiman padat penduduk.

Perluasan skrining tersebut ditandai dengan Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis dan Rontgen Dada serta Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pesantren dan Permukiman Padat Penduduk di Pondok Pesantren Yayasan Khairul Ummah Syahroni, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penemuan TB secara dini menjadi salah satu kunci untuk menekan penularan dan kematian akibat penyakit tersebut. TB masih menjadi penyakit menular dengan angka kematian tertinggi di Indonesia, dengan sekitar 120 ribu kematian setiap tahun.

Menurut Budi, persoalan utama penanganan TB bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan masih banyak penderita yang tidak mengetahui dirinya terinfeksi karena terlambat atau tidak menjalani skrining.

“Obatnya sudah ada dan manjur. Kalau minum obat pasti sembuh. Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena skrining-nya terlambat atau tidak dilakukan,” ujar Budi dilansir dari laman Kemenkes.

Kemenkes kini memanfaatkan teknologi rontgen dada yang lebih ringkas dan portabel sehingga pemeriksaan dapat dilakukan langsung di tengah masyarakat. Hasil pemeriksaan juga dapat dibantu teknologi AI untuk mengidentifikasi indikasi TB secara lebih cepat.

“Sekarang teknologi baru, alatnya kecil bisa digendong, dibawa pakai motor. Dengan demikian, kita bisa melakukan skrining ke masyarakat, tidak harus menunggu mereka datang ke rumah sakit,” katanya.

Untuk memperluas jangkauan layanan, Kemenkes menyiapkan sekitar 10 ribu unit rontgen yang akan didistribusikan secara bertahap ke puskesmas. Peralatan tersebut akan digunakan untuk mendekatkan layanan skrining sekaligus mendukung integrasi pemeriksaan TB dengan program CKG.

Pesantren menjadi salah satu sasaran prioritas karena kepadatan hunian dan aktivitas dalam ruang bersama dapat meningkatkan risiko penularan TB apabila terdapat penderita yang belum terdeteksi dan mendapatkan pengobatan.

Budi mengatakan, skrining TB secara umum rata-rata menemukan sekitar 0,3 persen kasus. Sementara skrining di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menemukan sekitar 3 persen kasus atau sekitar 10 kali lebih tinggi.

Temuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Kemenkes memperluas skrining ke lingkungan pesantren yang memiliki karakteristik kepadatan hunian serupa.

“Kita akan masuk ke seluruh pondok pesantren di Indonesia agar bisa di-skrining TB sehingga semua santrinya sehat,” tegas Budi.

Kemenkes akan berkolaborasi dengan Kementerian Agama untuk memperluas pelaksanaan skrining TB di pesantren seluruh Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan skrining tidak dapat hanya mengandalkan masyarakat yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurutnya, pemerintah harus secara aktif mendatangi kelompok masyarakat yang memiliki risiko penularan lebih tinggi.

“Dalam penanggulangan TB, kita tidak dapat hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kita harus aktif mendatangi masyarakat, terutama pada lingkungan dengan risiko penularan yang lebih tinggi seperti pesantren dan pemukiman padat penduduk,” ujar Andi.

Untuk permukiman padat penduduk, intervensi direncanakan mencakup 3.373 desa dan kelurahan di 38 kabupaten/kota dengan target penyelesaian hingga akhir 2026.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Amien Suyitno, menyatakan dukungan terhadap perluasan skrining TB di pesantren dan madrasah.

Menurutnya, terdapat sekitar 42 ribu pesantren dengan lebih dari 7 juta santri di Indonesia. Selain itu, terdapat lebih dari 82 ribu madrasah dengan sekitar 10,5 juta siswa.

Kemenag siap mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan CKG serta skrining kesehatan di lingkungan pesantren dan madrasah.

“Lebih dari 7 juta santri berada di 42.000 pesantren se-Indonesia. Karena itu sudah sangat tepat kalau Pak Menteri Kesehatan paling sering datang ke pesantren, karena inilah warga Indonesia yang membutuhkan kehadiran negara, terutama di bidang kesehatan,” ujar Amien.

Di sisi lain, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma terhadap penderita TB. Menurutnya, TB dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan penderita menjalani pengobatan sesuai ketentuan.

“Kalau ketemu TB enggak usah khawatir, enggak usah takut, enggak usah jadi stigma, enggak usah malu. Penyakit ini bisa disembuhkan,” katanya.

Kemenkes menargetkan penguatan penemuan dan pengobatan kasus TB dapat terus menekan angka kejadian maupun kematian akibat penyakit tersebut.

Melalui skrining aktif, pengobatan hingga tuntas, serta kolaborasi lintas sektor dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, pemerintah terus memperkuat upaya Indonesia mencapai target eliminasi tuberkulosis pada 2030.

Berita ini telah dibaca 5 kali
Font +
Font -
cross