FOTO/HUMAS UIN DATOKARAMA

UIN Datokarama Kenalkan Metode Rashdul Kiblat, Permudah Masyarakat Menentukan Arah Kiblat

Terbit : 17 July 2026
Font +
Font -

PALU, RC – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggelar edukasi dan pengamatan Rashdul Kiblat menggunakan metode bayangan matahari sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Kementerian Agama RI Indonesia Berkiblat 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (15/7/2026) itu diikuti mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab UIN Datokarama, mahasiswa Program Studi Ahwal Syakhsiyyah Universitas Alkhairaat, pembina, serta santri Pondok Pesantren Anwarul Quran Kota Palu. Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Perbandingan Mazhab, Nursalam Rahmatullah.

Dikutip dari laman UIN Datokarama, Ketua HMPS Perbandingan Mazhab, Musfira, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat metode sederhana yang memiliki tingkat akurasi tinggi dalam menentukan arah kiblat.

"Fenomena Rashdul Kiblat hanya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 27/28 Mei dan 15/16 Juli. Momentum ini perlu dimanfaatkan masyarakat untuk mengkalibrasi arah kiblat rumah, masjid, kantor, hingga pemakaman secara mandiri," ujarnya.

Materi utama disampaikan Dosen Ilmu Falak UIN Datokarama sekaligus Ketua Lajnah Falakiyah Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi, Muhammad Syarief Hidayatullah. Ia menjelaskan konsep Rashdul Kiblat, yaitu fenomena ketika matahari tepat berada di atas Ka'bah sehingga bayangan benda tegak lurus di berbagai wilayah dapat dijadikan acuan menentukan arah kiblat secara akurat.

Selain menerima materi teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan menggunakan theodolit, instrumen ilmu falak yang digunakan untuk mengukur arah kiblat secara presisi. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam membandingkan hasil pengukuran dengan metode Rashdul Kiblat.

Muhammad Syarief menilai edukasi penentuan arah kiblat perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat memahami cara melakukan kalibrasi arah kiblat secara mandiri.

"Metode penentuan arah kiblat seperti ini perlu terus disosialisasikan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di sekolah, majelis taklim, maupun organisasi kemasyarakatan. Harapannya, setiap muslim dapat menentukan atau mengecek kembali arah kiblat dengan benar," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat yang membutuhkan bantuan pengukuran arah kiblat dapat memanfaatkan layanan Laboratorium Ilmu Falak UIN Datokarama maupun Kantor Kementerian Agama di tingkat kabupaten dan kota yang telah memiliki peralatan serta tenaga teknis untuk melakukan pengukuran secara akurat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah seorang peserta dari Universitas Alkhairaat, Nurfadillah, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya ketepatan arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah.

Melalui kegiatan tersebut, UIN Datokarama berharap pemanfaatan fenomena Rashdul Kiblat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya akurasi arah kiblat sekaligus menjadi sarana pembelajaran ilmu falak yang aplikatif dalam mendukung pelaksanaan ibadah umat Islam.

Berita ini telah dibaca 4 kali
Font +
Font -
cross