
LUWUK, RC – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk memanfaatkan limbah botol plastik bekas menjadi pot gantung untuk budidaya sayuran sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian yang dijalankan pihak lapas.
Program yang berlangsung di lingkungan Lapas Luwuk, Kamis (4/6/2026), tersebut menjadi salah satu upaya pembinaan keterampilan praktis sekaligus mendukung pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan kembali sampah plastik.
Pot gantung dibuat dari botol plastik bekas yang dikumpulkan, dibersihkan, dipotong, dan dibentuk menjadi wadah tanam. Sebagian pot juga dicat dengan berbagai warna untuk meningkatkan nilai estetika sebelum digunakan sebagai media tanam.
Pot-pot tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran hijau, seperti sawi, selada, dan kangkung. Metode tanam gantung dipilih karena dinilai efektif memanfaatkan ruang terbatas sekaligus menciptakan lingkungan lapas yang lebih hijau dan produktif.
Pelaksana Harian Kepala Lapas Luwuk, Andi Abdul Muis, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan memperindah lingkungan lapas, tetapi juga memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah bebas.
“Ini merupakan bentuk edukasi urban farming yang mudah diterapkan. Ketika kembali ke masyarakat nanti, warga binaan diharapkan memiliki keterampilan untuk memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai dan berpotensi menghasilkan pendapatan,” kata Andi dilansir dari ditjenpas.go.id.
Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai edukatif sekaligus ekonomi karena mengajarkan warga binaan cara mengelola limbah menjadi produk yang bermanfaat serta mendukung ketahanan pangan skala kecil.
Salah seorang warga binaan, Paul (34), mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui program tersebut. Ia menilai kegiatan pemanfaatan limbah plastik menjadi media tanam membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk tetap produktif.
“Dengan memanfaatkan limbah botol plastik, lingkungan menjadi lebih bersih dan kami juga bisa menghasilkan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Melalui program tersebut, Lapas Luwuk terus mendorong pembinaan yang berorientasi pada penguatan kemandirian warga binaan. Selain membantu mengurangi volume sampah plastik, kegiatan itu juga memberikan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat.