
LUWUK, RC – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk bekerja sama dengan Puskesmas Simpong menggelar skrining Infeksi Menular Seksual (IMS), pemeriksaan suspek kusta, serta tindak lanjut penanganan kasus sifilis bagi warga binaan, Rabu (24/6/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyebaran penyakit menular di lingkungan pemasyarakatan.
Sebanyak 40 warga binaan mengikuti skrining IMS yang meliputi pemeriksaan fisik dan wawancara klinis oleh tim medis. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar bagi petugas kesehatan untuk menentukan langkah penanganan dan tindak lanjut medis yang diperlukan.
Selain skrining IMS, tim medis juga melakukan pengambilan spesimen swab terhadap satu warga binaan yang diduga mengalami gejala kusta. Sampel tersebut selanjutnya akan menjalani pemeriksaan laboratorium guna memastikan diagnosis dan menentukan langkah pengobatan yang tepat.
Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemenuhan hak pelayanan kesehatan bagi warga binaan sekaligus langkah preventif untuk menciptakan lingkungan lapas yang sehat dan bebas dari penyakit menular.
“Kesehatan adalah modal utama bagi warga binaan untuk mengikuti seluruh program pembinaan di lapas. Melalui skrining massal dan penanganan intensif ini, kami dapat melakukan respons cepat terhadap potensi penyebaran penyakit menular seperti IMS dan kusta,” ujar Bahrun dilansir dari ditjenpas.go.id.
Menurutnya, sinergi antara Lapas Luwuk dan Puskesmas Simpong menjadi bagian penting dalam mendukung program kesehatan di lingkungan pemasyarakatan, terutama pada hunian dengan tingkat kepadatan yang relatif tinggi.
Tim medis Puskesmas Simpong yang terlibat dalam kegiatan tersebut menilai langkah skrining berkala sangat penting untuk memetakan kondisi kesehatan warga binaan sekaligus menekan risiko penularan penyakit. Selain pemeriksaan, petugas juga melakukan tindak lanjut pengobatan terhadap kasus sifilis, termasuk pemberian terapi sesuai standar medis.
“Lingkungan dengan densitas tinggi seperti blok hunian memerlukan perhatian khusus. Melalui skrining rutin, intervensi pengobatan, dan pemeriksaan laboratorium, potensi penyebaran penyakit menular dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat,” kata Candra dari tim medis Puskesmas Simpong.
Di saat yang sama, pelayanan kesehatan reguler di Klinik Lapas tetap berjalan. Dokter Klinik Lapas Luwuk, dr. Andry, memberikan pemeriksaan dan penanganan terhadap warga binaan yang membutuhkan layanan medis sesuai kondisi dan keluhan masing-masing.
Melalui pelayanan kesehatan terpadu tersebut, Lapas Luwuk berharap dapat terus menjaga kondisi lingkungan hunian yang sehat, aman, dan kondusif, sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan pemasyarakatan yang bebas dari penyakit menular.