FOTO/UNTAD

Gempa M6,7 Rusak Sejumlah Gedung di Untad, Rektorat hingga Auditorium Terdampak

Terbit : 19 June 2026
Font +
Font -

PALU, RC – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di lingkungan Universitas Tadulako (Untad). Hasil pendataan awal menunjukkan kerusakan terjadi pada Gedung Rektorat, Auditorium, Media Center, Rumah Sakit Universitas Tadulako, Fakultas Teknik, hingga Gelanggang Mahasiswa.

Meski demikian, pihak universitas memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka akibat gempa yang berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu tersebut.

Sesaat setelah gempa terjadi, Universitas Tadulako langsung melakukan pemantauan dan pendataan terhadap kondisi sarana dan prasarana kampus guna memastikan keselamatan sivitas akademika serta mengidentifikasi tingkat kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan hasil identifikasi awal Tim Barang Milik Negara (BMN) bersama tim teknis, kerusakan yang ditemukan meliputi retakan dinding, terlepasnya material pelapis bangunan, kerusakan plafon, pecahnya kaca, hingga gangguan pada sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran.

Gedung Rektorat Universitas Tadulako yang telah direkonstruksi pascabencana 2018 mengalami retakan dan terkelupasnya material dinding pada beberapa bagian bangunan serta kerusakan plafon. Sementara itu, Gedung Media Center juga mengalami keretakan pada sejumlah titik.

Kerusakan yang cukup signifikan ditemukan di Auditorium Universitas Tadulako berupa runtuhnya sebagian plafon dan gangguan pada fasilitas videotron. Selain itu, Rumah Sakit Universitas Tadulako mengalami retakan pada beberapa bagian nonstruktural bangunan.

Di Fakultas Teknik, sebagian plafon dilaporkan roboh akibat kuatnya guncangan gempa. Sementara Gelanggang Mahasiswa Universitas Tadulako mengalami retakan pada beberapa bagian bangunan dan masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh tim teknis.

Sejumlah bangunan yang terdampak diketahui merupakan gedung hasil rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi 2018. Program rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut mulai dilaksanakan secara bertahap sejak awal 2022 dengan dukungan pemerintah pusat. Sebagian bangunan telah diserahterimakan, sementara beberapa lainnya masih dalam tahap penyelesaian dan penyempurnaan fasilitas pendukung.

Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT., menegaskan bahwa keselamatan sivitas akademika menjadi prioritas utama universitas. Karena itu, seluruh unit diminta segera melaporkan dampak yang terjadi dan berkoordinasi dengan tim teknis untuk mempercepat penanganan.

“Universitas Tadulako akan melakukan asesmen teknis secara menyeluruh terhadap seluruh bangunan kampus, khususnya bangunan hasil rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana 2018. Hasil asesmen ini akan menjadi dasar dalam menentukan langkah-langkah tindak lanjut untuk menjamin keamanan dan keselamatan seluruh pengguna bangunan,” ujar Amar dilansir dari untad.ac.id.

Menurutnya, asesmen menyeluruh diperlukan untuk memastikan tingkat keamanan bangunan sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap program rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pendidikan tinggi pascabencana.

Gempa bumi Magnitudo 6,7 tersebut terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 WITA. Berdasarkan data BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Universitas Tadulako menyatakan akan terus menyampaikan perkembangan hasil asesmen, kondisi fasilitas kampus, serta kebijakan terkait pelaksanaan kegiatan akademik melalui kanal resmi universitas.

Berita ini telah dibaca 5 kali
Font +
Font -
cross