FOTO/KEMENTAN

Hadapi Musim Kemarau 2026, Kementan Perkuat Cadangan Pakan Ternak

Terbit : 4 June 2026
Font +
Font -

JAKARTA, RC – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat cadangan pakan ternak nasional untuk mengantisipasi dampak musim kemarau 2026 yang berpotensi mengganggu ketersediaan hijauan pakan di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan guna menjaga produktivitas ternak dan memastikan pasokan protein hewani nasional tetap terjaga.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Tri Melasari, mengatakan pemerintah terus menyiapkan langkah antisipatif agar kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama di daerah yang berpotensi terdampak perubahan cuaca dan iklim.

“Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama bagi peternak yang berada di daerah terdampak bencana,” kata Tri dalam keterangan resmi dilansir dari pertanian.go.id.

Upaya tersebut dilakukan menyusul informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dibanding kondisi normal. Kondisi itu dikhawatirkan memengaruhi ketersediaan hijauan yang menjadi sumber utama pakan ternak.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementan memperkuat pengembangan Bank Pakan sebagai sistem penyimpanan cadangan pakan dalam bentuk silase dan hay yang dapat digunakan saat produksi hijauan segar menurun.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai sumber pakan alternatif, seperti jerami padi, tebon jagung, dan berbagai bahan pakan lokal lainnya. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan ketersediaan pakan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pertanian.

Penguatan cadangan pakan turut dilakukan di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PKH. Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Gun Gun Gunara, mengatakan pihaknya meningkatkan produksi silase dan memperluas areal hijauan makanan ternak untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok pakan tetap aman selama musim kemarau dan menghadapi berbagai tantangan kondisi iklim,” ujarnya.

Saat ini produksi silase di BIB Lembang mencapai 107,40 ton dengan rata-rata produksi 21,48 ton per bulan. Balai tersebut juga mengembangkan lahan hijauan melalui penanaman berbagai tanaman pakan berkualitas seperti jagung, rumput BH, dan Indigofera yang memiliki nilai nutrisi tinggi bagi ternak.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menegaskan bahwa ketahanan pakan merupakan fondasi utama dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan sektor peternakan. Karena itu, pemerintah terus memperkuat cadangan pakan, mengembangkan Bank Pakan, serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung produksi peternakan di tengah tantangan iklim.

Menurutnya, pembangunan sektor peternakan tidak hanya berfokus pada peningkatan populasi dan produksi ternak, tetapi juga menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun sebagai faktor utama keberhasilan pembangunan peternakan nasional.

Di tingkat peternak, pengembangan Bank Pakan juga mulai diterapkan sebagai strategi menghadapi musim kemarau. Salah satunya dilakukan Achmad Wahyudin, peternak sapi perah asal Garut, Jawa Barat, yang memanfaatkan sistem tersebut untuk menjaga ketersediaan pakan ternak.

“Pembuatan Bank Pakan kami lakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga ketersediaan pakan ternak sepanjang tahun,” katanya.

Kementan menilai penguatan cadangan pakan menjadi bagian penting dalam membangun sistem peternakan yang lebih modern, adaptif, dan berdaya saing. Dengan pasokan pakan yang terjamin, sektor peternakan diharapkan mampu menjaga ketersediaan protein hewani nasional sekaligus mendukung ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Berita ini telah dibaca 4 kali
Font +
Font -
cross