
LUWUK, RC – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk menyalurkan upah premi kepada warga binaan yang aktif mengikuti program pembinaan kemandirian, Rabu (1/7). Pemberian premi tersebut merupakan bentuk apresiasi atas hasil kerja warga binaan sekaligus bagian dari pembinaan untuk menumbuhkan etos kerja dan kemandirian.
Penyerahan premi dilakukan secara simbolis oleh Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Rudi Santoso, di lapangan apel Lapas Luwuk. Penerima premi merupakan warga binaan yang terlibat dalam berbagai program pembinaan, di antaranya pertanian konvensional dan hidroponik, mebel, pengelasan, laundry, pangkas rambut, tata boga, hingga pembuatan suvenir.
Seluruh pembayaran premi disalurkan melalui Sistem Transaksi Non-Tunai (Si Tonai) tanpa menggunakan uang tunai. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan setiap transaksi tercatat secara transparan, lebih aman, dan mudah diawasi sebagai bagian dari pengelolaan keuangan di lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Lapas Kelas IIB Luwuk, Muhammad Bahrun, mengatakan pemberian premi merupakan bagian dari proses pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga membangun budaya kerja yang produktif dan bertanggung jawab.
"Melalui program ini, warga binaan belajar bahwa keterampilan yang dimiliki dapat menghasilkan nilai ekonomi apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Upah lewat premi ini menjadi bentuk penghargaan atas usaha mereka, sekaligus memberikan pengalaman mengelola hasil kerja secara bertanggung jawab melalui sistem non-tunai yang kami terapkan," ujar Bahrun dikutip dari ditjepas.go.id.
Menurutnya, program tersebut juga sejalan dengan pelaksanaan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan pembinaan kemandirian dan pemberdayaan potensi produktif warga binaan agar memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.
Salah seorang penerima premi berinisial NM mengaku program tersebut menjadi motivasi untuk terus mengikuti pembinaan dengan serius. Ia mengatakan selain memperoleh keterampilan kerja, warga binaan juga belajar mengelola hasil penghasilan secara bijak.
"Saya senang karena hasil kerja kami dihargai. Selain memperoleh keterampilan, kami juga belajar mengelola penghasilan dengan baik. Sebagian upah saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari di dalam Lapas, sementara sisanya saya simpan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat," katanya.
Melalui program pemberian premi tersebut, Lapas Luwuk berharap warga binaan tidak hanya memiliki keterampilan kerja, tetapi juga etos kerja, pengalaman produktif, dan kemampuan mengelola keuangan yang dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan secara mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.