
PALU. RC – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap beredarnya pesan berantai yang mengatasnamakan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Pesan tersebut dipastikan merupakan informasi palsu atau hoaks yang berpotensi digunakan untuk melakukan penipuan dan pencurian data pribadi.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Sulawesi Tengah, Wahyu Agus Pratama, menegaskan bahwa pesan yang mengklaim penerima sebagai salah satu dari “10 orang tercepat yang dihubungi” serta meminta pengiriman data rekening dan identitas pribadi bukan berasal dari Gubernur maupun instansi resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
“Masyarakat diminta untuk tidak menanggapi ataupun memberikan data pribadi, data perbankan, maupun informasi penting lainnya kepada pihak yang tidak dapat dipastikan identitasnya. Pesan yang beredar tersebut merupakan informasi palsu atau hoaks yang berpotensi disalahgunakan untuk tindak penipuan,” tegas Wahyu dilansir dari sultengprov.go.id, Senin (8/6/2026).
Menurut Wahyu, pelaku memanfaatkan nama Gubernur Sulawesi Tengah untuk membangun kepercayaan calon korban. Modus semacam ini kerap digunakan dalam kejahatan siber guna memperoleh data pribadi maupun informasi perbankan yang kemudian dapat disalahgunakan.
Ia menambahkan, seluruh informasi resmi terkait program pemerintah, bantuan sosial, hadiah, maupun kegiatan pemerintahan hanya disampaikan melalui kanal komunikasi resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan media terpercaya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengirimkan data apa pun, tidak mengklik tautan mencurigakan, serta melakukan verifikasi terlebih dahulu melalui saluran resmi pemerintah apabila menerima pesan serupa.
“Apabila masyarakat menerima pesan serupa, jangan mengirimkan data apa pun, jangan mengklik tautan yang mencurigakan, dan segera lakukan verifikasi melalui kanal resmi pemerintah. Mari bersama-sama melawan penyebaran hoaks dan menjaga keamanan data pribadi,” ujarnya.
Pemprov Sulteng juga mengajak masyarakat untuk lebih cermat dalam menyaring informasi yang diterima serta menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” guna mencegah penyebaran hoaks di ruang digital.